Kamis, 12 Mei 2022

Vitex negundo: Its antioxidant activity and metabolite profiles of leaves and stem extracts of Vitex negundo

Based on Alfarabi's research and his team showed that lagundi (Vitex negundo) has good antioxidant activity in line with the increase of extract concentration. Furthermore, based on GC-MS profiling showed that three types of extracts contain 8 metabolites i.e., acrolein, hydroquinone, sitosterol, naphthalene, pyrogallol, squalene, phytol, and hexadecenoic acid.

For more please click: Alfarabi et al. 2022 - Vitex negundo

Sabtu, 04 September 2021

Genomic Improvement of Rice for Drought, Aluminum, and Iron Toxicity Stress Tolerance

 The opportunity of plants to escape from unwanted environments is almost nonexistent due to their sessile characteristic. Drought, aluminum (Al), and iron (Fe) toxicity under acid soil conditions are the major constraints as abiotic stresses in rice cultivation, particularly in tropical areas. These abiotic stress tolerance mechanisms are contributed by morphological, physiological, biochemical, and anatomical alterations that affect yield. The level of tolerance to these abiotic stresses is inherited quantitatively and controlled by several genes as quantitative trait loci. The objectives of this review were to highlight the current progress in investigating genes responsible for the drought, Al, and Fe toxicity, and their utilization for genomic improvement in rice. The mechanisms at the levels of morphology, physiology, biochemistry, anatomy, and particularly at the molecular level were discussed in the review. Overall, this review presents a systemic brief of drought, Al, and Fe tolerance mechanisms, recent progress in exploring genes responsible for these traits to the latest innovation in the genomic improvement of high-yielding multi-tolerant rice variety. This review could assist as guidelines for researchers and rice breeders.

For more: Miftahudin et al. 2021 Klik!

Sabtu, 05 Juni 2021

The expression of OsPLA2-III and OsPPO genes in rice (Oryza sativa L.) under Fe toxicity stress

Lipids are an important biomolecule in plants because of their structural and functional roles in plant cells. Moreover, they could act as signal molecules in the defense system of plants suffering from biotic and abiotic stresses. Furthermore, plants develop various tolerance strategies to cope with iron (Fe) toxicity, for example, by involving genes in the detoxification process and other mechanisms. Therefore, the objective of this research was to investigate the expression of OsPLA2-III and OsPPO genes during Fe stress conditions. It was carried out using two-week-old seedlings of two rice varieties, namely, IR64 (Fe-sensitive variety) and Pokkali (Fe-tolerant variety). The seedlings were treated with 400 ppm FeSO4.7H2O in the nutrient culture solution and compared with control that received 1 ppm FeSO4.7H2O. Furthermore, leaf bronzing, chlorophyll content and relative expression of OsPLA2-III and OsPPO genes were observed. An in-silico study was also performed to predict the interaction between OsPLA2-III and OsPPO proteins. The results showed that the Fe toxicity induced leaf bronzing, decreased leaf chlorophyll content, and increased the expression levels of OsPLA2-III and OsPPO genes. Therefore, both genes were suggested to have a role in plant tolerance mechanism during Fe toxicity stress through the lipid signaling pathway.

For more, please visit: JTLS klik!

Minggu, 02 Mei 2021

The Effectiveness of Nutrient Culture Solutions with Agar Addition as An Evaluation Media of Rice Under Iron Toxicity Conditions

BackgroundEvaluation of the tolerance level of rice to iron (Fe) toxicity stress can be done using a hydroponic system in a nutrient culture solution under a controlled condition. This study aimed to obtain a nutrient culture solution that effective as a medium for evaluating the response of rice under Fe toxicity stress condition.

Methods: This experiment was carried out by comparing the effectiveness of three kinds of nutrient culture media, namely Yoshida’s Half-Strength solution (HSY), Yoshida’s Half-Strength + 0.2% agar solution (HSYA), and Yoshida’s Full-Strength + 0.2% agar solution (FSYA) using two rice genotypes, Inpara 5 (sensitive to Fe toxicity) and Mahsuri (tolerant to Fe toxicity). Leaf bronzing level, plant dry weight, and pH of nutrient culture media were observed in this experiment.

Results: The results showed that the stress response as represented by bronzing score in Inpara 5 leaves was known to be higher than that of Mahsuri in the three nutrient culture media. The decrease of root and shoot dry weight in Inpara 5 was higher than that of Mahsuri. In addition, the decrease in the pH of nutrient culture solution media without an agar addition (HSY) occurred faster than the media with the agar addition (HSYA and FSYA).

Conclusion: The HSYA and FSYA media exhibited similar pattern of pH declining but causing significant different in growth responses between Inpara 5 and Mashuri indicating the HSYA medium is considered more efficient compared to the FSYA medium because it only requires a smaller amount of agar.

Article


For more and download, please visit: Bioeduscience klik!

Rabu, 20 Januari 2021

Profil pertumbuhan tanaman kelapa sawit transgenik P5CS setelah aklimatisasi

Transformasi genetik untuk merakit tanaman yang toleran kekeringan telah dilakukan dengan mengintroduksikan gen P5CS ke dalam kalus kelapa sawit. Planlet transgenik telah dihasilkan dan telah melalui uji cekaman kekeringan in-vitro. Salah satu tahapan krusial dalam rekayasa genetik adalah aklimatisasi tanaman sebelum ditanam di lapang. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilkan aklimatisasi dan mengkarakterisasi pertumbuhan planlet kelapa sawit transgenik P5CS setelah aklimatisasi. Sebanyak 17 planlet non-transgenik dan 26 planlet transgenik P5CS diaklimatisasi pada media tanam dengan komposisi top soil kompos (1:3; v:v) selama 4 minggu. Tinggi tanaman, kecepatan penambahan tinggi, jumlah daun, panjang, lebar, serta rasio panjang:lebar daun diamati dalam penelitian ini hingga minggu ke-6 setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hidup planlet non-transgenik dan transgenik P5CS masing-masing 76,5% dan 76,9% dengan karakter pertumbuhan yang bervariasi antar klon tanaman. Tinggi tanaman transgenik P5CS hasil aklimatisasi pada minggu ke-6 yaitu 8,5-25,4 cm dengan kecepatan penambahan tinggi 0,100-0,267 cm/minggu dan jumlah daun 1-3 helai. Panjang, lebar, serta rasio panjang:lebar daun tanaman transgenik P5CS hasil aklimatisasi yaitu 7,0-17,0 cm, 1,0-3,0 cm, dan 4,4-9,8. Terdapat 4 kelompok tanaman kelapa sawit transgenik P5CS hasil aklimatisasi berdasarkan karakter pertumbuhannya menggunakan teknik Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA). Kelompok 1 terdiri dari tanaman T-30(1). Kelompok 2 terdiri dari tanaman T-12(3), T-12(4), dan T-12(5). Kelompok 3 terdiri dari tanaman T-13, T-14(2), T-22, T-23, T-24, T-25(1), T-25(2), dan T-26. Kelompok 4 terdiri dari tanaman T-1, T-3(1), T-3(2), T-5, T-6, T-10, T-11, dan T-12(2).

Jika Bapak/Ibu membutuhkan fulltext (PDF) dari artikel prosiding ini maka bisa hubungi saya melalui email turhadibiologi@gmail.com




Sabtu, 14 November 2020

PENGARUH EKSTRAK DAUN BINTARO (Cerbera odollam) TERHADAP WAKTU BERHENTI MAKAN DAN MORTALITAS LARVA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura)

PENGARUH EKSTRAK DAUN BINTARO (Cerbera odollamTERHADAP WAKTU BERHENTI MAKAN DAN MORTALITAS LARVA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura)

Turhadi1©, Bedjo2, Suharjono3

1 Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Bogor, Indonesia;

 2 Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI), Malang, Indonesia;

3 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia

©Email korespondensi: turhadibiologi@gmail.com

 

Abstrak. Efek negatif pestisida kimia terhadap ekosistem dan lingkungan mendorong usaha untuk menekan penggunaannya, contohnya penggunaan biopestisida nabati. Sebagai salah satu hama penting, ulat grayak (Spodoptera litura) perlu untuk ditekan populasinya untuk meminimalisir kehilangan hasil panen. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida nabati untuk mengendalikan hama ulat grayak yaitu Cerbera odollam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun bintaro terhadap waktu berhenti makan (stop feeding) dan mortalitas larva ulat grayak. Penelitian ini didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari enam taraf perlakuan (0 (kontrol), 10, 15, 20, 25, dan 30 g/L) dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Ekstrak diaplikasikan ke larva ulat grayak dengan menggunakan metode leaf dipping methods. Efektivitas pengaruh ekstrak daun bintaro terhadap ulat grayak dilakukan dengan mengamati waktu berhenti makan (time of stop feeding) dan mortalitas (tingkat kematian larva). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bintaro berpotensi digunakan sebagai biopestisida nabati untuk larva S. litura. Mortalitas larva S. litura semakin meningkat sejalan dengan semakin lamanya waktu aplikasi ekstrak. Selain itu, mortalitas larva ulat grayak tertinggi terjadi pada perlakuan 20, 25, dan 30 g/L yaitu sebesar 40% pada 168 jam setelah aplikasi.

Kata kunci: biopestisida, C. odollam, S. litura 

For more please visit: https://ejournal.unipas.ac.id/index.php/Agro/article/view/572

Sabtu, 29 September 2018

[ImageJ] Threshold Color dan Wand (Tracing) Tool


Pengukuran Luas Area Objek dengan Bantuan Threshold Color dan Wand (Tracing) Tool pada Software ImageJ

Turhadi1*)

1)Program Doktor Biologi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor
*)Alamat korespondensi: turhadibiologi@gmail.com


Terdapat tiga tahap penting dalam pengambilan data luas area objek, misalnya: pengukuran luas daun tanaman. tiga tahap penting tersebut yaitu:
1. Pengambilan gambar pada objek target
2. Kalibrasi skala
3. Pengukuran luas area objek target.



Pengambilan gambar objek target

Proses dokumentasi gambar dapat dilakukan menggunakan bantuan alat, misalnya: kamera digital dan scanner. Pada saat mendokumentasikan gambar jangan lupa skala pembanding diikutkan.



Kalibrasi skala
  • Buka sofware imageJ


  • Klik File lalu pilih open kemudian pilih gambar skala yang sudah didokumentasikan. Pada praktek kali ini digunakan penggaris.

  • Klik tool garis, kemudian pilih straight line.

  • Tarik garis dari ujung hingga ke ujung lainnya pada skala. Maka akan terlihat garis lurus warna kuning. Proses penarikan pastikan benar-benar lurus. 
  • Klik analyze, kemudian pilih set scale. Maka akan muncul laman set scale yang terdiri dari beberapa isian yaitu Distance in pixels, known distance, pixel aspect ratio, unit of length. Pada distance in pixels setelah dilakukan proses penarikan garis sebelumnya maka akan muncul angka hasil pengukuran. Pada praktek kali ini muncul angka 156.05. Artinya panjang skala yang sedang kita kalibrasi yaitu 156.05 pixel.
  • Selanjutnya pada isian known distance masukkan angka 1 dan pada unit of length tuliskan cm (bisa menggunakan satuan yang lainnya). Artinya bahwa 156.05 pixel sama dengan 1 cm.
  • Centang Global agar hasil kalibrasi untuk pengukuran sampel selanjutnya tidak berubah.
  • Klik OK dan proses kalibrasi telah selesai.

Pengukuran luas area objek target
  • Buka file gambar sampel yang akan diukur.
  • Pilih image lalu Adjust kemudian Threshold. Langkah tersebut menghasilkan tampilan berupa background gambar berubah warna menjadi merah.

  • Pada laman Threshold Color, hilangkan tanda centang pada Dark Backgrounds. Langkah tersebut akan menghasilkan tampilan berupa hanya sampel target yang berubah warna menjadi merah.
  • Pilih Wand (tracing) tool.
  • Klik Analyze kemudian Measure. Luas area yang muncul pada laman Results abaikan karena ini bukan hasil pengukuran dari daerah target yang kita inginkan.
  • Klik gambar satu persatu secara bergantian. Setiap kali setelah mengklik gambar target, maka jangan lupa klik Analyze lalu Measure. Hasil dari langkah ini yaitu diperoleh luas area target. Lakukan langkah ini hingga semua sampel/daerah target selesai diukur.
  • Klik Results lalu Summarize pada laman Results hingga diketahui Mean, SD, Min, dan Max dari hasil pengukuran yang telah dilakukan.
  • Selesai.















Rabu, 13 Juni 2018

[ImageJ] PENGUKURAN LUAS AREA SEL PADA SAMPEL MIKROSKOPIS


Pengukuran Luas Area Sel pada Sampel Mikroskopis Menggunakan Software ImageJ


Turhadi1*) dan Yoana Meidita Sri Utami2)

1)Program Doktor Biologi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor
2)Program Sarjana Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor
*)Alamat korespondensi: turhadibiologi@gmail.com


Kalibrasi Skala

  • Buka sofware imageJ.


Klik File lalu pilih Open à pilih gambar skala yang sudah didokumentasikan. Pada praktek kali ini digunakan mikrometer objektif (1 skala= 0.01 mm).


  • Klik tool garis à pilih straight lineTarik garis dari ujung hingga ke ujung lainnya pada skala. Maka akan terlihat garis lurus warna kuning. Proses penarikan pastikan benar-benar lurus.
  • Klik analyze à pilih set scale. Maka akan muncul laman set scale yang terdiri dari beberapa isian yaitu Distance in pixels, known distance, pixel aspect ratio, dan unit of length. Pada distance in pixels setelah dilakukan proses penarikan garis sebelumnya maka akan muncul angka hasil pengukuran. Pada praktek kali ini muncul angka 1986. Artinya panjang skala yang sedang kita kalibrasi yaitu 1986 pixels.

  • Selanjutnya pada isian known distance masukkan angka 1 dan pada unit of length tuliskan mm (bisa menggunakan satuan yang lainnya). Artinya bahwa 1986 pixels sama dengan 1 mm.
  • Centang Global agar hasil kalibrasi untuk pengukuran sampel selanjutnya tidak berubah.
  •  Klik OK dan proses kalibrasi telah selesai.


Pengukuran Luas
  • Tutup gambar skala yang telah dikalibrasi tadi dan sekarang klik File lalu open. Buka file gambar sampel yang akan diukur.
  • Jika gambar dirasa terlalu kecil maka sebaiknya diperbesar dengan bantuan tombol positif (+) pada keyboard  atau diperkecil dengan tombol negatif (-). Gunakan tool scrolling tool (simbol sarung tangan) untuk menggeser-geser gambar yang akan dianalisis.
  • Setelah gambar dirasa cukup jelas maka selanjutnya klik tool freehand selections (simbol kacang).
  • Klik daerah/sel yang akan diukur luasnya dengan cara klik bagian tepi sel, tarik sambil ditahan hingga mencakup sekeliling daerah tersebut dan lepaskan. Maka akan terlihat daerah yang dikelilingi oleh garis kuning.
  • Selanjutnya klik Analyze dan pilih Measure (Ctrl+M). Maka hasil pengukuran akan keluar pada output result.
  • Kemudian klik Label. Maka akan muncul angka pada daerah yang  diukur sebelumnya. Fungsi penggunaan Label disini yaitu untuk menandai bahwa daerah tersebut sudah dilakukan pengukuran.
  • Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan mengukur daerah sel yang lainnya seperti tahap sebelumnya. Jangan lupa tekan tool freehand selections (simbol kacang) setiap kali akan mengukur bagian sel lainnya. Setelah proses selesai, selalu klik Analyze Ã  Measure Ã  Analyze Ã  Label.
  • Tahapan tersebut dilakukan hingga semua daerah terget selesai diukur.
  • Hasil pengukuran luas area dapat dilihat dari output Result.
  • Buka Result à klik Edit à Copy à Paste di Ms. Excel.
  • Pada program Ms.Excel dapat diketahui luas total dari area target dengan cara menjumlahkan dengan fungsi SUM. Selain itu dari hasil praktek ini, selain dapat diketahui luas area juga dapat diketahui jumlah area yang diamati.
  • Selesai.

Minggu, 06 Mei 2018

Beasiswa PMDSU Batch 4 Tahun 2018

Apa motivasimu? kenapa harus PMDSU? kenapa tidak memilih beasiswa yang lain? Sepertinya beberapa pertanyaan itu mulai kalian pikirkan dari sekarang. Penting! Karena seleksi beasiswa ini tidak mudah. Ribuan pesaing akan kalian hadapi, namun hanya sebagian kecil yang akan dinyatakan sebagai Awardee PMDSU.

Beasiswa Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Sound is good! yuk disimak ulasan singkat dari saya. Check this out!

Perkenalkan nama saya Turhadi. Saya merupakan salah satu Awardee Beasiswa PMDSU ini. Saya tercatat sebagai awardee beasiswa PMDSU Batch II Tahun 2015. Sekarang saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana saya di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Di Kampus IPB ini saya mengambil program studi Biologi Tumbuhan (BOT). Sedikit informasi lagi ya, saya telah menyelesaikan pendidikan sarjana saya di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya dan lulus pada bulan Januari 2015. Pada bulan April 2018, saya juga telah menyelesaikan pendidikan magister saya di program studi Biologi Tumbuhan (BOT), Institut Pertanian Bogor. Namun saat ini saya masih juga tercatat sebagai mahasiswa aktif program doktor di program studi Biologi Tumbuhan (BOT), Institut Pertanian Bogor.

Untuk bisa menjadi salah satu awardee beasiswa PMDSU ini tentunya kita harus siap mental dulu dari awal sebelum mendaftar. Kenapa mental kita harus siap? Siap gagal dan siap lolos seleksi.

Bagaimana kita bisa menjadi Awardee beasiswa ini? Secara garis besar seperti ini prosesnya mendapatkannya. Sebelumnya, kita harus mendaftar dulu kan ya. Pendaftaran beasiswa PMDSU ini dilakukan secara pararel, maksudnya selain kita melakukan pengisian formulir di website PMDSU (lihat Pedoman Pelaksanaan Beasiswa PMDSU 2018), kita juga harus mendaftar di kampus tujuan. Tentunya kampus-kampus yang telah ditunjuk oleh Kemenristekdikti untuk menyelenggarakan beasiswa pendidikan PMDSU ini. Dan yang terpenting adalah kalian juga menghubungi calon promotor yang kalian tuju. Tetap junjung tinggi norma-norma kesopanan ketika menghubungi calon promotor. Tunjukkan bahwa kalian adalah insan yang baik.

Sebaiknya sebelum kalian mendaftar alangkah lebih baiknya kalau kalian menggali informasi terkait beasiswa ini, informasi bisa kalian dapat melalui awardee sebelumnya atau bisa juga melalui internet. For your Information, Beasiswa PMDSU ini telah diselenggarakan sebanyak 3 Batch yakni Batch 1 pada tahun 2013, Batch 2 pada tahun 2015, dan Batch 3 pada tahun 2017. Dan telah diumumkan bahwa batch 4 akan dibuka pendaftarannya untuk tahun 2018, namun tetap terus ikuti perkembangan informasinya. Berikut ini merupakan sebaran jumlah penerima dan promotor pada tiga batch PMDSU:


sumber: Pedoman Pelaksanaan Beasiswa PMDSU 2018


Berdasarkan Panduan Beasiswa PMDSU 2018, berikut persyaratan untuk mendaftar beasiswa ini:
1. Sarjana unggul (fresh graduate).
2. Telah memiliki gelar S1 (sarjana strata 1).
3. Persyaratan IPK pelamar adalah
    - apabila akreditasi PT asal adalah A dan akreditasi prodi asal adalah A maka minimal IPK 3.25.
    - apabila akreditasi PT asal adalah B dan akreditasi prodi asal adalah A maka minimal IPK 3.5.
    - apabila akreditasi PT asal adalah A dan akreditasi prodi asal adalah B maka minimal IPK 3.5.
    - apabila akreditasi PT asal adalah B dan akreditasi prodi asal adalah B maka minimal IPK 3.75.
    - apabila akreditasi PT dan prodi asal adalah dibawah B maka minimal IPK 3.8.
4. Usia pada saat mendaftar tidak lebih dari 24 tahun untuk lulusan non profesi dan 27 tahun untuk lulusan profesi.
5. Memeperoleh rekomendasi dari dosen pembimbing.
6. WNI.
7. Tidak sedang menerima beasiswa lainnya.
8. Sehat jasmani, rohani dan bebas narkoba.
9. Bersedia mengikuti pendidikan pascasarjana selama jangka waktu 4 (empat) tahun.

Apakah yang dibiayai pada beasiswa PMDSU ini?
sumber: Pedoman Pelaksanaan Beasiswa PMDSU 2018

Selamat mencoba dan semoga sukses.

Salam,
Turhadi, S.Si., M.Si

-----------------------------------------------------------------------------------------
Sebaiknya jika kalian memang benar-benar menginginkan beasiswa ini. Saran dari saya, persiapkan diri anda sebaik mungkin, misalnya: tunjukkan bahwa kalian memang punya passion di bidang riset (didukung dengan pengalaman baik berupa riset skripsi kalian atau keterlibatan kalian dalam riset dosen/institusi). IPK tinggi sebenarnya juga tidak sepenuhnya menjamin kalian untuk bisa mendapatkan beasiswa ini. Intinya kalian harus pintar menjual diri kalian (hahaha..), tunjukkan paparkan potensi, keinginan, rencana kuat anda ke depannya seperti apa kepada calon promotor (Jika ada wawancara langsung/tidak). Dan yang tidak kalah penting, daftarlah kepada calon promotor yang sesuai bidang skripsi kalian. Jangan kalian skripsi tentang fisiologi hewan, terus karena coba-coba ingin ikut beasiswa PMDSU dan mendaftar ke calon promotor yang punya bidang keahlian tumbuhan. Logikanya sih, apakah kita akan dipilih? Menurut saya, calon promotor yang paling menentukan kalian dipilih/tidak.
Pengalaman saya kemarin? selain saya harus mengirimkan berkas kepada kampus tujuan dan promotor (karena beliau meminta). Promotorpun juga melakukan wawancara kepada saya melalui telepon. Jadi lagi persiapkan diri kalian. Ingat. Beasiswa ini, beasiswa PMDSU bukan beasiswa main-main. Bukan!. Bersiaplah jadi calon doktor wahai generasi emas Indonesia!.

Oh ya, buat jaga-jaga persiapkan CV kalian sebaik mungkin ya! 

Kenali calon promotormu.
Kenali dirimu.
Kenali potensi dan kemampuanmu.

Semangat!!

------------------------------------------------------------------------------------------

Sekedar info untuk PMDSU Batch 4 Tahun 2018 ini SUDAH DIBUKA pendaftarannya. 

DAFTAR CALON PROMOTOR: check!
FORMULIR PENDAFTARAN: check!

Penting!
  1. Isi formulir pendaftaran beasiswa PMDSU dengan benar.
  2. Sebelum melakukan pendaftaran, pastikan Saudara sudah melakukan pendaftaran di perguruan tinggi tujuan dan sudah melakukan komunikasi dengan calon promotor yang Saudara pilih.
  3. Hanya lulusan dari perguruan tinggi yang telah terakreditasi institusi yang dapat melakukan pendaftaran.
  4. Data mahasiswa harus sudah terlaporkan di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI).
  5. Penulisan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) disesuaikan dengan data yang terlaporkan di PDDIKTI.
  6. Formulir adalah untuk mendapatkan username dan password yang selanjutnya Saudara wajib melengkapi formulir pendaftaran dengan melakukan login menggunakan akun tersebut.
------------------------------------------------------------------------------------------



Persiapkan dirimu!

Rabu, 02 Mei 2018

[SPSS] ANALISIS REGRESI

Tujuan: Untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel respon “Y” (dependen/tak bebas/terikat) dengan variabel prediktor “X” (independen/bebas).
Asumsi: (1) Sampel berdistribusi normal dan (2) Diambil secara acak dari populasi yang berdistribusi normal
Kegunaan: meramalkan nilai dari variabel bebas, jika setiap nilai dari variabel takbebas diketahui.
Analisis Regresi merupakan analisis statistika yang memanfaatkan hubungan antara dua atau lebih peubah kuantitatif sehingga salah satu peubah dapat diramalkan dari peubah lainnya.

Latihan!
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara kelimpahan ulat bulu dengan keberadaan semut rangrang, kunjungan burung pemakan serangga serta kenaikan suhu, pada 20 pohon mangga yang diamati. Pengamatan dilakukan di Probolinggo yang sedang terserang wabah serangan ulat bulu. Berdasarkan hasil analisis korelasi pada praktikum sebelumnya, peneliti ingin mengetahui lebih mendalam apakah suhu memengaruhi kelimpahan ulat bulu di pohon mangga dalam bentuk hubungan sebab akibat, dimana suhu adalah sebab dan kelimpahan ulat bulu adalah akibat.

Data sebagai berikut:

Selanjutnya inputkan data ke program SPSS, seperti berikut:



Kemudian setelah itu kita cek bagaimana distribusi datanya dalam hal ini data mengikuti sebaran normal atau tidak. Salah satu cara untuk mengeceknya yaitu melalui uji KS. Langkahnya adalah klik Analyze lalu Nonparametric tests lalu pilih 1-sample KS.... masukkan variable yang akan dicek distribusi datanya ke dalam kolom test variable list.


Setelah output keluar dapat diketahui bahwa keempat data berdistribusi normal. Taunya dari mana? Jika angka Asymp. Sig. (2-tailed) >0.05 maka artinya DATA BERDISTRIBUSI NORMAL. Pada latihan kali ini kita hanya ingin melakukan analisis regresi antara suhu dan kelimpahan ulat bulu.

Selanjutnya, kita lakukan analisis regresi dengan cara klik Analyze, lalu pilih Regression, dan selanjutnya pilih Linier seperti tampilan di bawah ini:


Kemudian akan muncul laman Linier Regression seperti di bawah ini. Selanjutnya, masukkan variabel Jumlah Ulat Bulu ke dalam kolom Dependent dan variabel Suhu ke dalam kolom Independent. Lalu, klik OK!


Output hasil analisis akan muncul sebagai berikut:


Berdasarkan output diatas dapat diketahui bahwa Nilai R menunjukkan sebesar 0.733. Artinya bahwa terdapat hubungan yang kuat antara suhu dan kelimpahan ulat bulu. Nilai R square menunjukkan sebesar 0.537 atau 53.7%. Artinya bahwa kelimpahan ulat bulu dipengaruhi sebesar 53.7% oleh besarnya suhu lokasi penelitian, sedangkan sisanya 46.3% kelimpahan ulat bulu dipengaruhi oleh variabel lain di luar suhu. Hal ini mengindikasikan cukup tingginya tingkat determinasi suhu terhadap kelimpahan ulat bulu di pohon mangga.

Nilai R: menunjukkan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua variabel.
Nilai R square: memprediksi  kontribusi pengaruh variabel X terhadap variabel Y.


Berdasarkan output diatas diketahui juga bahwa nilai sig. <0.05 menunjukkan adanya hubungan/korelasi yang bermakna.






GROWTH RESPONSES AND VARIATION OF IRON TOLERANCE LEVEL IN SEVERAL RICE GENOTYPES

The 9th International Kasetsart University science and Technology Annual Research Symposium (I-KUSTARS) 2017

Plant tolerance mechanism to iron (Fe) toxicity involve complex physiological processes and depend on the genotypes. The objectives of the research were (1) to analyze growth response of several rice genotypes to Fe toxicity, and (2) to analyze the relationship between rice growth characters and tolerance mechanism to Fe toxicity. The research was conducted in 2 experiments. The 1st experiment was conducted to compare the effectiveness of three nutrient culture media (YHS, YHSA, and YFSA) to distinguish between Fe-tolerant (Mahsuri) and -sensitive (Inpara 5) genotypes in response to Fe toxicity. The 2nd experiment evaluated ten rice genotypes (IR64, IRH108, Danau Gaung, Hawara Bunar, Indragiri, Pokkali, Mahsuri, Inpara 2, Inpara 5 and Inpara 6) grown in nutrient culture media that were treated  with and without 400 ppm Fe. To distinguish the tolerance mechanism of those rice genotypes to Fe toxicity, plant growth characters, leaf bronzing score (LBS), Fe content, and physiological responses were observed. The result showed that Yoshida half strength with agar 0.2% (YHSA) medium and 400 ppm FeSO4.7H2O for 10 days stress was effective and efficient nutrient culture medium to analyze growth response and tolerance mechanisms of rice to iron toxicity. The LBS-based rice responses to Fe stress was divided into 2 response groups, i.e.: early response (LBS1-LBS6) and late response (LBS7-LBS10). Fe toxicity decreased shoot and root growth characters. The Fe content in root plaque and shoot varied among genotypes. Analysis of relationship between genotypes and growth characters divided the genotypes into 3 groups of Fe-tolerance mechanism, i.e.: sensitive-includer (IR64 and Inpara 5), tolerant-includer (Danau Gaung, Inpara 6, Inpara 2, Mahsuri, and IRH108), and tolerant-excluder (Hawara Bunar, Indragiri, and Pokkali).

Let's take some pictures!