Transformasi genetik untuk merakit tanaman yang toleran kekeringan telah dilakukan dengan mengintroduksikan gen P5CS ke dalam kalus kelapa sawit. Planlet transgenik telah dihasilkan dan telah melalui uji cekaman kekeringan in-vitro. Salah satu tahapan krusial dalam rekayasa genetik adalah aklimatisasi tanaman sebelum ditanam di lapang. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilkan aklimatisasi dan mengkarakterisasi pertumbuhan planlet kelapa sawit transgenik P5CS setelah aklimatisasi. Sebanyak 17 planlet non-transgenik dan 26 planlet transgenik P5CS diaklimatisasi pada media tanam dengan komposisi top soil : kompos (1:3; v:v) selama 4 minggu. Tinggi tanaman, kecepatan penambahan tinggi, jumlah daun, panjang, lebar, serta rasio panjang:lebar daun diamati dalam penelitian ini hingga minggu ke-6 setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hidup planlet non-transgenik dan transgenik P5CS masing-masing 76,5% dan 76,9% dengan karakter pertumbuhan yang bervariasi antar klon tanaman. Tinggi tanaman transgenik P5CS hasil aklimatisasi pada minggu ke-6 yaitu 8,5-25,4 cm dengan kecepatan penambahan tinggi 0,100-0,267 cm/minggu dan jumlah daun 1-3 helai. Panjang, lebar, serta rasio panjang:lebar daun tanaman transgenik P5CS hasil aklimatisasi yaitu 7,0-17,0 cm, 1,0-3,0 cm, dan 4,4-9,8. Terdapat 4 kelompok tanaman kelapa sawit transgenik P5CS hasil aklimatisasi berdasarkan karakter pertumbuhannya menggunakan teknik Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA). Kelompok 1 terdiri dari tanaman T-30(1). Kelompok 2 terdiri dari tanaman T-12(3), T-12(4), dan T-12(5). Kelompok 3 terdiri dari tanaman T-13, T-14(2), T-22, T-23, T-24, T-25(1), T-25(2), dan T-26. Kelompok 4 terdiri dari tanaman T-1, T-3(1), T-3(2), T-5, T-6, T-10, T-11, dan T-12(2).
Rabu, 20 Januari 2021
Profil pertumbuhan tanaman kelapa sawit transgenik P5CS setelah aklimatisasi
Sabtu, 14 November 2020
PENGARUH EKSTRAK DAUN BINTARO (Cerbera odollam) TERHADAP WAKTU BERHENTI MAKAN DAN MORTALITAS LARVA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura)
PENGARUH EKSTRAK DAUN BINTARO (Cerbera odollam) TERHADAP WAKTU BERHENTI MAKAN DAN MORTALITAS LARVA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura)
Turhadi1©, Bedjo2, Suharjono3
1 Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Bogor, Indonesia;
2 Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI), Malang, Indonesia;
3 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia
©Email
korespondensi: turhadibiologi@gmail.com
Abstrak. Efek negatif
pestisida kimia terhadap ekosistem dan lingkungan mendorong usaha untuk menekan
penggunaannya, contohnya penggunaan biopestisida nabati. Sebagai salah satu
hama penting, ulat grayak (Spodoptera
litura) perlu untuk ditekan populasinya untuk meminimalisir kehilangan
hasil panen. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida
nabati untuk mengendalikan hama ulat grayak yaitu Cerbera odollam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
potensi ekstrak daun bintaro terhadap waktu berhenti makan (stop feeding) dan mortalitas
larva ulat grayak. Penelitian ini didesain menggunakan rancangan
acak lengkap yang terdiri dari enam taraf perlakuan (0 (kontrol), 10, 15, 20,
25, dan 30 g/L) dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Ekstrak
diaplikasikan ke larva ulat grayak dengan menggunakan metode leaf dipping methods. Efektivitas
pengaruh ekstrak daun bintaro terhadap ulat grayak dilakukan dengan mengamati
waktu berhenti makan (time of stop feeding) dan mortalitas (tingkat
kematian larva). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bintaro
berpotensi digunakan sebagai biopestisida nabati untuk larva S. litura.
Mortalitas larva S. litura semakin
meningkat sejalan dengan semakin lamanya waktu aplikasi ekstrak. Selain itu, mortalitas
larva ulat grayak tertinggi terjadi pada perlakuan 20, 25, dan 30 g/L yaitu
sebesar 40% pada 168 jam setelah aplikasi.
Kata kunci: biopestisida, C. odollam, S. litura
For more please visit: https://ejournal.unipas.ac.id/index.php/Agro/article/view/572

