Rabu, 10 Februari 2016

BEASISWA PMDSU

Assalamualaikum wr. wb.

Hi, teman-teman saya sedikit berbagi informasi nih terkait salah satu beasiswa dari Kemenristekdikti RI ini yakni Beasiswa Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Perkenalkan nama saya Turhadi saya merupakan salah satu Awardee Beasiswa PMDSU ini. Saya tercatat sebagai awardee beasiswa PMDSU Batch II Tahun 2015. Sekarang saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana saya di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Di Kampus IPB ini saya mengambil program studi Biologi Tumbuhan (BOT). Sedikit informasi lagi ya, saya telah menyelesaikan pendidikan sarjana saya di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya dan lulus pada bulan Januari 2015.
Untuk bisa menjadi salah satu awardee beasiswa PMDSU ini tentunya kita harus mendaftar dulu kan ya. Pendaftaran beasiswa PMDSU ini dilakukan secara pararel, maksudnya selain kita melakukan pengisian formulir di website http://beasiswa.dikti.go.id/pmdsu/ ini kita juga harus mendaftar di kampus tujuan. Tentunya kampus-kampus yang telah ditunjuk oleh Kemenristekdikti untuk menyelenggarakan beasiswa pendidikan PMDSU ini.
Sebaiknya sebelum kalian mendaftar alangkah lebih baiknya kalau kalian menggali informasi terkait beasiswa ini, informasi bisa kalian dapat melalui awardee sebelumnya atau bisa juga melalui internet. For your Information, Beasiswa PMDSU ini telah diselenggarakan sebanyak 2 Batch yakni Batch 1 pada tahun 2013 dan Batch 2 pada tahun 2015.
Berdasarkan Panduan Beasiswa PMDSU 2015 bagi pelamar beasiswa ini maka harus:
1. Mencari informasi sedalam mungkin tentang bidang studi promotor,  yang  akan dijadikannya sebagai pembimbing.
2. mendaftarkan  diri  sebagai  pelamar  PMDSU  melalui  laman beasiswa.dikti.go.id/pmdsu  dengan  memenuhi  seluruh  persyaratan  yang diperlukan;
3. mendaftar  ke  PPs  Penyelenggara  yang  dituju  dengan  memenuhi persyaratan pendaftaran sebagai pelamar PPs tersebut;
4. mengikuti  dan  memenuhi  seluruh  persyaratan  Proses  Seleksi  yang  diselenggarakan oleh PPs Penyelenggara tujuan;
5. melihat  hasil  Penetapan  Penerima  PMDSU  yang  diumumkan  oleh  PPs tempat studi;
6. Jika diterima bersedia menanda tangani kontrak dengan Dikti sebagai Calon Dosen.

Mungkin diantara teman-teman kalau informasi dari saya ini masih sangat kurang menjawab pertanyaan kalian semua, kalian bisa juga mengunjungi blog dari salah satu awardee beasiswa PMDSU Batch 2 dari IPB juga yakni Mas Angga Dwinovantyo, S.Ik. Adapun link dari blog mas Angga yang membahas terkait beasiswa PMDSU ini yaitu https://anggavantyo.wordpress.com/2015/07/22/pmdsu-2015-beasiswa-langsung-doktor/

Selamat mencoba dan semoga sukses.


Salam,
Turhadi, S.Si


NB: Kalian juga bisa menjalin komunikasi dengan saya dengan komentar di postingan ini langsung atau bisa menghubungi saya via BBM (5456E1FC) / LINE: @turhadisuparno / Whatshapp (+6285735764528) / Facebook (Turhadi Suparno)

Senin, 08 Februari 2016

SUMBER DAYA GENETIK AMORPHOPHALLUS SPP.

Amorphophallus merupakan salah satu genus tanaman anggota dari famili Araceae. Menurut Hetterscheid dalam Mayo et al. (1997) menyatakan bahwa terdapat 170 Amorphophallus yang ada di dunia yang tersebar di berbagai wilayah meliputi: Afrika Tropis, Madagaskar, Asia Tropis, Kepulauan Melayu, Malanesia, dan Australasia (Angola, Australia, Bangladesh, Benin, Bhutan, Botswana, Brunei, Burkina Faso, Myanmar, Burundi, Cabinda, Kamboja, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Tiongkok Selatan (termasuk Taiwan), Kongo, Guinea Ekuator (Bioko, Rio Muni), Ethiopia, Gabon, Gambia, Ghana, Guinea, Guinea-Bissau, India, Indonesia, Pantai Gading, Jepang, Kenya, Laos, Liberia, Madagaskar, Malawi, Malaysia, Mali, Mozambique, Namibia, Nepal, Niger, Nigeria, Papua Nugini, Filipina, Rwanda, Senegal, Sierra Leone, Somalia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Sudan, Tanzania, Thailand, Togo, Uganda, Vietnam, Zaire, Zambia, dan Zimbabwe (Gambar 1).


Gambar 1. Peta persebaran Amorphophallus (Mayo et al. 1997)

Amorphophallus merupakan tanaman herba perenial yang mampu menghasilkan umbi dengan bunga yang tersusun dalam tonjolan bentuk tugu (spadiks) dengan daun pemikat (spathe) (Gambar 2). Jumlah kromosom (2n) yang dimiliki oleh Amorphophallus yakni 26, 28, dan 39. Habitat Amorphophallus meliputi hutan tropis, hutan musiman, lahan terbuka, terkadang juga di tumpukan humus pada bebatuan (batu kapur), dan area penduduk. Pemanfaatan Amorphophallus yakni terletak pada umbinya. Umbi A. paeoniifolius dan A. konjac telah dimanfaatkan secara luas sebagai sumber karbohidrat pada makanan di wilayah Asia Tropis dan Jepang (Mayo et al. 1997).

Gambar 2. Salah satu contoh spesies anggota Amorphophallus (Porang (A. muelleri Blume)):  (a). bunga; (b). habitus dan (c). tongkol buah (Keterangan: *: spadix dan #: spathe) (Turhadi, 2015)

Berbagai macam tanaman yang termasuk ke dalam genus Amorphophallus hingga saat ini telah cukup banyak diketahui baik yang bersifat endemik pada suatu wilayah tertentu maupun yang tidak. Ittenbach & Lobin (1997) menyatakan bahwa terdapat 6 spesies baru dan 2 subspesies baru Amorphophallus yang ada di Afrika yakni A. barthlottii (Pantai Gading dan Liberia), A. canaliculatus (Gabon), A. hetterscheidii (Gabon, Zaire dan Republik Afrika Tengah), A. impressus (Tanzania dan Malawi), A. margretae (Zaire), A. richardsiae (Zambia), A. abyssinicus subsp. akeassii (Pantai Gading dan Nigeria), dan A. calabaricus subsp. mayoi (Zaire, Uganda dan Kenya). Magtoto et al. (2013) mengatakan terdapat 11 spesies Amorphophallus yang ada di Filipina meliputi A. dactylifer, A. declinatus,  A. ongispathaceus, A. luzoniensis,  A. merrillii, A. paeonifolius, A. palawanensis, A. rostratus, A. salmoneus, A. natolii, dan A. adamensis. Hetterscheid & Claudel (2014) menyebutkan bahwa A. perrieri merupakan spesies baru Amorphophallus endemik Madagaskar. Chauhan & Brandham (1985) dalam studinya terkait variasi kromosom dan DNA menyebutkan juga bahwa 17 spesies anggota genus Amorphophallus memiliki asal wilayah yang berbeda-beda meliputi: A. abyssinicus (A. Rich.) N. E. Brown (Rhodesia (Zimbabwe)), A. bulbifer (Roxb.) Blume (India), A. commulatus (Schott) Engl. (India), A. dracontioides (Engl.) N. E. Brown (Afrika Barat), A. dubius Blume (India), A. goetzei (Engl.) N. E. Brown (Malawi), A. hildebrandtii (Engl.) Engl. & Gehrm (Madagaskar), A. johnsonii N. E. Brown (Pantai Gading), A. kerrii N. E. Brown (Thailand), A. konjac C. Koch (Filipina), A. lambii Mayo & Widjaja (Kalimantan, Indonesia), A. laxiflorus N. E. Brown (Kenya), A. oncophyllus Prain ex. Hook.f. (Jawa, Indonesia), A. paeoniifolius (Dennst.) Nicolson (India), A. prainii Hook.f. (Malaysia), A. sutepensis Gagnep. (Thailand), A. variabilis Blume (Indonesia).
Sedayu et al. (2010) menyatakan bahwa sembilan spesies Amorphophallus memiliki daerah asal (origin) dari wilayah Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah meliputi: pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Berikut ini merupakan spesies Amorphophallus yang memiliki origin dari Indonesia: A. beccarii, A. borneensis, A. decus-silvae, A. discophorus, A. hirsutus, A. paeoniifolius, A. sagittarius, A. titanum, dan A. variabilis. Jansen et al. (1996) menyebutkan bahwa terdapat 20 spesies Amorphophallus yang ada di Indonesia dari 200 spesies yang dikenal di dunia. Salah satu diantara spesies Amorphophallus tersebut juga telah banyak dibudidayakan di Indonesia yakni porang (A. muelleri Blume) karena nilai ekspornya tinggi. Porang  dikenal sebagai  tanaman sumber karbohidrat alternatif yang mengandung  glukomanan  tertinggi di antara jenis Amorphophallus lainnya di Indonesia (Sumarwoto 2004). Kandungan  glukomanan dalam umbi Amorphophallus dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai  industri, seperti industri makanan dan farmasi (Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia Universitas Brawijaya 2013).

Gambar 3. Pohon filogenetik: (a). 69 spesies Amorphophallus berdasarkan marka molekuler trnL, rbcL, LEAFY (Sedayu et al. 2010); (b). 8 spesies Amorphophallus berdasarkan marka isozim Malat Dehidrogenase (MDH) dan Polifenol Oksidase (Ppo)

Berbagai macam penelitian untuk mempelajari diversitas genetik dan evolusi dari Amorphophallus juga telah banyak dilakukan terutama menggunakan penanda-penanda molekuler tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Sedayu et al. (2010) dengan menggunakan penanda molekuler trnL, rbcL, LEAFY diketahui bahwa 69 spesies Amorphophallus berdasarkan rekonstruksi pohon filogenetik terlihat mengelompok menjadi empat klad yakni klad benua Asia I, klad benua Asia II, klad Asia Tenggara, dan clad Afrika (Gambar 3a). Anil et al. (2014) juga melakukan analisis diversitas Amorphophallus dengan menggunakan penanda isozim berupa Malat Dehidrogenase (MDH) dan Polifenol Oksidase (Ppo) (Gambar 3b). Hasilnya bahwa terdapat variasi jumlah alel per lokus yang kecil (1-1,67). Rata-rata persentase lokus polimorfisme pada kedelapan spesies Amorphophallus yaitu 58,33 % polimorfisme. Rata-rata nilai heterozigositas populasi diduga berkisar 0,11-0,375. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan secara genetik antara semua populasi yang dipelajari.
Konservasi salah satu spesies Amorphohallus endemik pulau Sumatra (Indonesia) yakni Amorphophallus titanium telah dilakukan. Menurut Mayo (2015) terdapat beberapa lembaga yang bekerjasama dalam hal konservasi spesies ini meliputi: Royal Botanical Garden, Sydney Botanical Garden, dan Kebun Raya Bogor. Konservasi spesies ini yang dilakukan secara ex-situ di Royal Botanical Garden dengan cara dibudidayakan di rumah kaca khusus pada kondisi suhu dan kelembaban yang relatif tinggi, serta ternaungi. Hal ini dilakukan karena spesies ini diketahui sangat sulit untuk dibudidayakan sehingga diperlukan perlakuan seperti yang dilakukan di Royal Botanical Garden tersebut. Selain A. titanium di Royal Botanical Garden juga sebagai lembaga konservasi lebih dari 170 spesies Amorphophallus lainnya, misalnya: A. bulbifer, A. haematospadix, A. dunnii, A. manta, A. paeoniifolius dan lain sebagainya. Konservasi ex-situ A. titanium dilakukan menggunakan beberapa cara yaitu perbanyakan melalui perkecambahan biji Latifah et al. (2001) dan leaf cuttings (Purwantoro & Latifah, 2003) seperti yang telah dilakukan di Pusat Konservasi Tanaman, Kebun Raya Bogor.
Dua spesies Amorphophallus (A. konjac dan A. albus) yang digunakan sebagai bahan pangan di Cina dilakukan konservasi secara in-situ dengan melibatkan sistem pertanian (farming system). Di Provinsi Yunan kedua spesies ini dibudidayakan secara tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya misalnya: jagung, kacang-kacangan, tanaman buah, sorghum, dan ubi jalar. Sejak tahun 1999, luas lahan budidaya spesies ini mencapai 20000 hektar. Kedua spesies ini juga dapat ditemukan tumbuh liar di Yunan barat laut dan tepi sungai Yangtze, tetapi populasi liar ini keberadaannya terancam karena aktivitas manusia berupa adanya perluasan lahan pertanian (Long et al. 2003).
Lembaga di Indonesia yang diketahui juga sebagai tempat konservasi spesies Amorphophallus yang berpotensi sebagai bahan pangan alternatif (suweg (A. campanulatus Blume)) yakni BB-Biogen. Data paspor sumber daya genetik tanaman pangan 2015 yang dikeluarkan oleh BB-Biogen (2015) menyatakan bahwa terdapat dua aksesi suweg sebagai tanaman koleksi Bank Gen BB-Biogen, Bogor.